“Pemimpin sejati bukan yang berbicara paling lantang di mimbar, tapi yang paling cepat melangkah saat rakyatnya dalam duka”, Elvis Jehama.
INFO MATIM – Desa Gunung Baru, Kecamatan Kota Komba Utara jalan setapak menanjak, lubang di kanan-kiri, sungai deras yang harus diseberangi saat musim hujan. Inilah kondisi harian yang dilalui warga setempat selama bertahun-tahun. Ketika hujan turun dan air membesar, akses menjadi tantangan nyaris nyawa.
Dalam sebuah momen yang kemudian menjadi viral, Elvis Jehama anggota DPRD Manggarai Timur terlihat ikut membantu masyarakat menggotong motor dan membawa anak menyeberangi aliran sungai Waemokel. Ia juga sempat menggendong seorang anak agar tak terjebak di arus deras saat pelintas jalan darurat ini.
Bagi warga Kota Komba, aksi itu bukan hanya gesture, melainkan simbol dari wakil rakyat yang “turun ke medan” ketika jalan masih tak bisa dilalui. Sebuah harapan: wakil yang bisa hadir, bukan hanya lewat surat dan janji.
Suara dari Pedalaman: Aspirasi dan Harapan
Pada Desember 2024, Elvis melakukan reses di Desa Golo Tolang (Kota Komba) ia mendatangi kampung Ndalir, Ndei dan Pau, bertemu tokoh masyarakat, pemuda, hingga ibu-ibu yang selama ini kesulitan air bersih. Dalam kesempatan itu, ia tak hanya mendengar, tetapi juga “tangan di lapangan” memberi material untuk memperbaiki bak air di Wae Nggong.
Warga menceritakan bagaimana sejak puluhan tahun, mereka menunggu jalan aspal, listrik masuk, jembatan permanen yang hingga kini hanya menjadi janji. Dalam hati mereka, wakil rakyat setidaknya hadir menjadi perantara suara kelompok yang selama ini dianggap “terisolasi”.
Krisis dan Respons: Dari Tanah Bergerak sampai Kebakaran
Awal 2025, Kampung Nenu di Desa Paan Leleng mengalami pergerakan tanah. Pada 23 Januari, Elvis bersama pejabat daerah menyerahkan bantuan rumah darurat bagi delapan keluarga terdampak.
Menurut keterangan Kepala Desa, ini sudah kali keempat kunjungan Elvis ke lokasi sejak musibah berulang terjadi. Ia menekankan bahwa bantuan sosial bukan sekadar bentuk tanggung jawab, melainkan urgensi untuk mematri rasa hadir negara di titik paling rapuh.
Desember 2024, tiga rumah warga di Kampung Pau, Desa Ruan, hangus dilalap api. Mendengar kabar, Elvis langsung bergerak, membawa bantuan berupa kebutuhan pokok seperti beras, mie, telur, bekerja sama dengan aparat setempat. Kepala desa setempat menyatakan rasa terima kasih atas kecepatan dan kehadirannya dalam duka tersebut.
Pada Agustus 2025, ketika masyarakat diguncang kabar seorang anak menjadi korban persetubuhan, Elvis Jehama mengecam tindakan pelaku, menuntut penegakan hukum yang transparan, serta perlindungan maksimal untuk korban. Bagi warga, sikap tegas seperti ini setelah tragedi sangat penting untuk memulihkan kepercayaan terhadap institusi.
Kritik, Tantangan, dan Harapan: Komentar Warga Kota Komba
Bagi sebagian warga, kebaikan Elvis tampak nyata: ketika bencana datang, bantuan tiba, ketika banjir melanda, ia tak segan ikut menyusuri medan sulit.
“Beliau satu-satunya yang konsisten memperjuangkan nasib kami,” tutur seorang warga Gunung Baru menanggapi dorongan agar proyek jembatan Wae Mokel segera dikerjakan.
Namun, sebagian lain tetap menaruh pertanyaan: kapan infrastruktur besar yang selama ini dirindukan jalan, jembatan, listrik benar-benar terwujud, bukan hanya dipajang dalam janji kampanye? Ketika warga Desa Gunung Baru harus menggotong jenazah menyeberangi sungai karena tidak ada jembatan, warga melihat itu sebagai “simbol matinya keadilan fiskal”.
Elvis sendiri merespons dengan memanggil Dinas PUPR dan instansi terkait ke DPRD untuk membicarakan prioritas anggaran perbaikan dan pembangunan jembatan Wae Mokel, sebagai salah satu tonggak demokrasi pembangunan bagi wilayah terpencil. Citra, Tantangan, dan Jalan ke Depan
Bagi warga Kota Komba, citra Elvis Jehama cenderung sebagai “wakil rakyat yang hadir dalam krisis.” Tapi apakah kehadiran itu cukup? Jalan rusak, jembatan tak ada, fasilitas dasar belum merata inilah PR terbesar.
Dalam balutan peran politik, ia harus menjaga keseimbangan: menjadi pengawal aspirasi warga, sekaligus penggerak kebijakan di DPRD agar realisasi janji pembangunan bersama.





















