INFO MATIM – Di tengah teriknya matahari di Kampung Rahong, terlihat seorang lelaki paruh baya melangkah pelan sambil memanggul sebuah kotak kayu kecil di punggungnya. Suaranya pelan namun akrab: “jahit sepatu… jahit sepatu…” Lelaki itu adalah Petrus, 50 tahun, seorang tukang sol sepatu keliling yang setiap hari menempuh perjalanan puluhan kilometer hanya dengan berjalan kaki.
Bagi sebagian orang, menambal sepatu mungkin pekerjaan sepele. Namun bagi Petrus, setiap jahitan, setiap lembar uang upah, adalah perjuangan untuk membesarkan dan menyekolahkan empat anaknya.
Petrus memulai harinya sebelum matahari terbit. Dari rumah sederhananya di Bangka Ajang, ia berjalan kaki menyusuri perkampungan, toko-toko, hingga pasar-pasar kecil. Dalam sehari, ia bisa berjalan 6 hingga 10 kilometer, bergantung pada jumlah pelanggan yang ia temui.
“Kalau pakai motor, saya tidak mampu beli bensin. Jadi ya jalan kaki,” katanya sambil tersenyum tipis. Di pundaknya, kotak peralatan berisi jarum lengkung, benang nilon, palu kecil, lem, dan beberapa peralatan sederhana lain menjadi teman setia.
Meski cuaca sering terik dan kadang hujan turun tanpa ampun, Petrus tetap melangkah. Ia mengakui tubuhnya sering pegal, tetapi berhenti bukan pilihan. “Kalau saya berhenti, bagaimana anak-anak sekolah?”, ujarnya kepada Infomatim.com, Sabtu (15/11/25).
Petrus memiliki empat anak masih berusia sekolah dasar hingga sekolah menengah. Istrinya membantu ekonomi keluarga dengan membuat kue pesanan, namun penghasilan tidak selalu menentu.
“Anak-anak saya rajin belajar. Saya ingin mereka tamat sekolah, tidak seperti saya,” kata Petrus seraya meneruskan pekerjaannya menambal sepatu robek milik seorang pelanggan.
Putri sulungnya bercita-cita menjadi bidan, sementara adik-adiknya masih mencari jalan masing-masing. Bagi Petrus, cita-cita anak-anaknya adalah bahan bakar yang membuatnya terus melangkah, satu tapak demi tapak.
Meski hanya membawa peralatan sederhana dan bekerja di mana saja ia dipanggil, Petrus memiliki hubungan yang hangat dengan warga. Banyak yang mengatakan ia jujur, telaten, dan tidak pernah mematok harga tinggi.
“Sepatu saya pernah rusak parah, saya kira tidak bisa diperbaiki. Tapi Pak Petrus bilang bisa, dan hasilnya bagus sekali,” tutur seorang pemilik toko sembako yang sudah menjadi pelanggan tetap.
Ada pula warga yang memberikan air minum, sekotak nasi, atau sekadar tempat berteduh ketika hujan turun. “Rejeki itu tidak selalu uang,” ujar Petrus mensyukuri.
Setiap kali tangannya menarik benang dengan perlahan, Petrus seolah sedang menjahit harapan yang ia simpan untuk anak-anaknya. Kehidupan baginya adalah perjalanan panjang yang harus ditempuh dengan ketekunan.
Di penghujung hari, saat matahari mulai condong, Petrus berjalan pulang dengan langkah sedikit terseret akibat lelah. Namun, di balik rasa letih itu ada rasa puas: hari ini, ia sudah berusaha sebaik mungkin.
“Saya hanya ingin anak-anak saya bisa berjalan lebih jauh daripada saya,” ucapnya pelan.
Dan melalui langkah-langkah kecil yang ia tapaki setiap hari, Petrus membuktikan bahwa cinta seorang ayah bisa menjadi kekuatan luar biasa bahkan ketika ia tidak memiliki apa-apa selain kotak kayu, dua telapak kaki, dan semangat yang tak pernah padam.
























