INFO MATIM – Ende (Oma) Theodorus Dora yang berasal dari Kampung Lalang, Desa Beo Rahong, Kecamatan Ruteng, Manggarai seorang lansia berusia kurang lebih dari 80 tahun yang sejak muda memilih hidup tanpa suami dan kini menjalani hari-harinya dalam gelap akibat kebutaan yang dideritanya.
Sejak masa remaja, Oma Dora dikenal sebagai perempuan pendiam namun cekatan. Ia membantu orang tuanya di kebun, menenun, dan sesekali berdagang kecil-kecilan di kampung. Jodoh tak pernah benar-benar singgah dalam hidupnya. Bukan karena ia menolak, tetapi keadaan keluarga dan tanggung jawab yang menumpuk membuat ia menunda banyak hal, hingga akhirnya usia menua tanpa pernah berumah tangga.
“Mose daku nenggo’o Kaut (Hidup saya ya begini saja), hanang koe danong Mai (dari dulu sendiri),” katanya pelan, dengan suara yang kini bergetar seiring melemahnya tubuh.
Beberapa tahun terakhir, penglihatannya hilang sepenuhnya. Awalnya hanya kabur, namun perlahan gelap semakin menutup dunia yang pernah ia kenal. Sejak saat itu, ia tak lagi bisa berjalan tanpa dipapah, tak bisa makan tanpa disuapi, dan tak bisa membedakan siang atau malam tanpa diberi tahu.
Yang kini setia merawatnya adalah menantunya, Nata (61), istri dari keponakan Oma Dora. Meski bukan hubungan darah langsung, Nata tinggal bersama Oma dan menjadi satu-satunya tempat bergantung bagi perempuan tua itu. Hidup Nata dan sang suami pun penuh keterbatasan. Pekerjaannya hanya serabutan dengan upah kecil.
“Kadang bingung laku hang apa aku diang (Kadang saya bingung mau makan apa besok),” ujar Nata sambil menatap tungku yang hampir selalu kosong. “co kaut caran kudut nganceng hang ata tua ende ho’o, apa kaut mangan kerja, kerja laku (tapi Oma harus makan. Jadi apa saja yang bisa saya kerjakan, saya kerjakan)”.
Setiap pagi, Nata bangun lebih awal untuk menyiapkan ubi dan nasi untuk anak semata wayangnya juga suaminya dan Ende Dora. Setelah itu, ia memandikan Oma dengan air dingin dari tampungan hujan, menyisir rambutnya, dan mengantarnya duduk di kursi bambu dekat pintu rumah. Dari tempat itu, Oma Dora biasanya mendengarkan suara orang lewat, gesekan daun, atau ayam-ayam yang berkokok satu-satunya “pemandangan” yang masih bisa ia nikmati.
Tetangga sesekali membantu, tetapi tidak setiap hari. Kondisi ekonomi warga kampung pun rata-rata pas-pasan. Meski begitu, sebagian besar hari-hari mereka dilalui dengan bertahan semampu mungkin.
“Eme usang mese agu buruh warat, rantang ata tua ende, cau lime daku terus (Kalau hujan deras atau angin malam kencang, Oma takut. Dia pegang tangan saya terus),” kata Nata, tersenyum kecil. “Nggo Tae daku asi rantang, manga aku, mbarang rantang kin weki ru aku (Saya bilang jangan takut, ada saya. Walau saya sendiri juga kadang takut).”
Di tengah segala kekurangan, Oma Dora tetap menyimpan kebiasaan kecil yang menjadi sumber ketenangan melantunkan doa-doa pendek yang ia hafal sejak kecil. Suaranya lirih, namun menjadi penanda bahwa meski hidupnya kini gelap, ia masih menjaga secercah cahaya dalam hatinya.
Kisah Oma Dora mencerminkan realitas banyak lansia di pedesaan hidup tanpa jaminan, tanpa pasangan, tanpa tabungan, dan bertumpu pada orang yang juga berjuang untuk bertahan. Tapi di rumah di Kampung Lalang itu, terlihat jelas bahwa ketulusan tak selalu membutuhkan banyak hal. Terkadang, ia hadir dalam bentuk tangan yang memapah, semangkok bubur hangat, atau suara lembut yang berkata, “Ho kaku ende (Oma, saya ada di sini).”
Di tengah gelap yang tak lagi mampu diterobos mata, Oma Dora tetap memiliki cahaya seseorang yang tidak meninggalkannya. Dan mungkin, di kampung kecil itu, itulah bentuk cinta yang paling jujur.






















