INFO MATIM – Pemerintah pusat masih menanggung sepenuhnya pemenuhan kebutuhan dasar bagi sekitar 8.000 warga yang terdampak erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyampaikan bahwa hingga saat ini status tanggap darurat masih diberlakukan, dan seluruh kebutuhan dasar masyarakat terdampak tetap menjadi tanggung jawab pemerintah pusat.
Kepala BNPB Suharyanto menyatakan bahwa masyarakat di wilayah terdampak masih sangat membutuhkan bantuan pemerintah, mengingat aktivitas vulkanik Gunung Lewotobi Laki-laki belum sepenuhnya menunjukkan tanda-tanda mereda.
“Ini kan sekarang masih tanggap darurat. Baru mau beristirahat, gunungnya meletus lagi. Jadi 8.000 orang ini masih ditanggung kebutuhan dasarnya oleh pemerintah pusat,” kata dia menjawab pertanyaan pewarta selepas pertemuan dengan Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BP Taskin) di Jakarta, Rabu (22/10/25).

Ia menjelaskan bahwa sebagian besar warga terdampak erupsi kini telah menempati hunian sementara (huntara) yang disediakan oleh BNPB bekerja sama dengan kementerian/lembaga dan pemerintah daerah.
Dalam waktu dekat, pemerintah juga akan memulai pembangunan hunian tetap (huntap) sebagai bagian dari upaya pemulihan jangka panjang.
“Sekarang semuanya sudah tinggal di huntara. Dalam waktu dekat kami akan masuk ke hunian tetap. Setelah mereka nanti di huntap, baru kita memikirkan masalah sosial ekonomi berikutnya,” ujarnya.
BNPB mengkonfirmasi kondisi darurat yang berkepanjangan membuat warga desa di sekitar Gunung Lewotobi Laki-Laki belum bisa kembali menggarap lahan pertanian. Komoditas pertanian unggulan seperti kakao, mete, dan hortikultura dilaporkan gagal panen akibat dampak erupsi dan abu vulkanik yang melanda wilayah itu hampir satu tahun terakhir.
“Jangankan mereka berpikir untuk pertanian, untuk makan dan minum saja masih kesulitan. Karena itu semua kebutuhan dasar seperti makanan, air bersih, dan tempat tinggal masih dipenuhi oleh pemerintah,” kata dia.
Dengan demikian menurut dia, penanganan bencana di Flores Timur ini akan dijadikan sebagai salah satu prototipe kerja sama lintas sektor dalam upaya pemulihan sosial ekonomi pascabencana, termasuk bersama Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan.
“Contohnya seperti korban erupsi Gunung Semeru, sekarang mereka sudah hidup normal dan lebih baik daripada sebelum bencana. Nah, itu targetnya. Jadi bukan hanya mengembalikan kondisi seperti semula, tapi setelah bencana harus lebih baik,” ujarnya menegaskan.





















