INFO MATIM – Di kawasan pegunungan dan lembah-lembah di Kabupaten Manggarai Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), kehidupan tak selalu mudah. Akses pelayanan kesehatan terbatas, listrik belum menjangkau seluruh rumah, dan banyak warga lansia atau penyandang disabilitas hidup dalam keheningan dan kesendirian.
Dalam kondisi demikian muncul satu sosok yang memilih untuk turun tangan, bukan hanya memberi imbauan. Bripka Heribertus Agustinus B. Tena akrab dipanggil “Polisi Hery”.
Heribertus bertugas di Polres Manggarai Timur sebagai Kepala Seksi Dokkes, yang secara formal bertanggung jawab atas aspek kesehatan internal kepolisian. Namun ia memilih untuk memperluas ruang pengabdiannya menjangkau warga yang secara fisik, ekonomi, dan sosial berada di pinggiran.
Lulusan Magister Ilmu Forensik dari Universitas Airlangga (Unair) itu punya latar belakang pendidikan yang tak biasa untuk tugas pelayanan masyarakat di wilayah pedalaman.
Dengan gaji yang tergolong sederhana, ia rutin menyisihkan sebagian penghasilannya untuk membeli kursi roda bagi penyandang disabilitas, membiayai pengobatan anak-anak sakit, hingga memasang meteran listrik di rumah-rumah yang selama ini gelap gulita.
Salah satu kisah yang menggugah datang dari Desa Golo Ndele, Kecamatan Kota Komba Utara. Seorang lansia bernama Ibu Marta Nene (80) tinggal tanpa akses listrik selama bertahun-tahun hanya mengandalkan lampu minyak di rumahnya. Berkat inisiatif Bripka Hery, meteran listrik subsidi 450 W akhirnya terpasang dan rumahnya kini tak lagi gelap malam-malam.

Di waktu lain, ia membantu pemasangan listrik, kursi roda, dan pengobatan bagi mereka yang kesulitan mendapat layanan dasar. Dalam sebuah artikel disebutkan bahwa “dengan gaji sederhana, ia membelikan kursi roda bagi warga lumpuh, membayar pemasangan meteran listrik bagi janda tua yang tinggal sendirian, bahkan membantu biaya pengobatan anak-anak dengan penyakit serius.
Kemudian, ketika sebuah keluarga kurang mampu di Desa Ngampang Mas (Kecamatan Borong) mendapatkan bantuan paket sembako dan alat tulis dari Kapolda NTT melalui tangan Bripka Hery, itulah bukti bahwa kepedulian‐nyata bisa menjangkau hingga anak-anak sekolah di pedalaman.
Tak hanya bidang sosial, Hery juga turun langsung ke medan berat. Ketika warga di pelosok membutuhkan akses kesehatan, ia turut mengantar ke fasilitas medis, mendampingi mereka, dan menyediakan biaya transportasi atau pendukung lain.
Melakukan aksi sosial di wilayah terpencil seperti Manggarai Timur tidak mudah. Medan jalan rusak, biaya transportasi tinggi, dan fasilitas publik terbatas. Namun Hery tidak membiarkan hal itu menjadi alasan untuk diam.
Dalam sebuah tulisan disebut, “Ia rela menggunakan dana pribadinya, yang awalnya ditabung untuk membeli motor namun ia gunakan untuk membiayai ojek, sewa angkutan umum, dan membeli sembako.”
Motivasinya sederhana: “ingin bermanfaat bagi sesama” dan “profesi sekaligus alat pelayanan nyata bagi warga yang terpinggirkan.
Ia menegaskan bahwa menjadi polisi bukan hanya soal menegakkan hukum, tetapi juga tentang kemanusiaan Melayani dengan hati.
“Saya bukan datang untuk jadi pahlawan, saya datang karena mereka butuh”, ucap Hery.
Kehadiran sosok seperti Hery menjadi secercah harapan di tengah sorotan publik yang kerap menyoroti sisi negatif institusi kepolisian. Sebuah artikel menyebut:
Derasnya sorotan publik terhadap institusi Polri ternyata masih ada secercah harapan dari ufuk timur, kedermawanan Bripka Heribertus Tena patut ditiru.
Sikapnya menginspirasi rekan-rekan di kepolisian untuk ikut bergerak dalam kegiatan sosial. Ia menunjukan bahwa tugas polisi dapat diwujudkan bukan hanya lewat patroli atau razia, tetapi juga lewat uluran tangan kasih dan kehadiran nyata di lapangan.
Walaupun sudah banyak melakukan, Hery menyadari bahwa masalah yang dihadapi warga Manggarai Timur masih besar: kemiskinan ekstrim, akses layanan yang terbatas, infrastruktur yang lemah.























